NEGERI KU “DIBUNGKAM” PIKIRANKU “MELAYANG”

Semangat Anak Negeri

Sangat disayangkan sekali 65 tahun menjalani hidup dengan status “Merdeka” namun keterbatasan masih menyelimuti negeri ini.

Negeri yang paling kaya di seluruh Dunia ini hanyalah negeri pemimpi yang tiap kali merengek-rengek meminta balas kasihan dari sang “Penguasa”. Rakyat menangis, pimpinanku tertawa. Rakyat mandi darah sendiri, pimpinanku mandi air keringat rakyat. Rakyat berteduh dengan sehelai daun kering, pimpinanku berteduh dengan uang negara.

Darah MerekaSangat menyedihkan menjadi rakyat jelata, yang hanya bisa mengemis pada sang “Penguasa”. Belum ada pemimpin di Negeri ini, tapi banggalah bahwa negeri ini sejahtera, negeri ini kaya, orang-orang senang tinggal di negeri ini, tetapi hanya untuk sang “Pejabat” yang mengerat kulit rakyat bagaikan kulit domba yang di jual dan dijadikannya selimut. Hangat memang, nikmat memang, tidak akan “kita” merasa kedinginan kali ini. Tapi, hanya untuk sang “Pejabat”.

Maaf, ini bukan penghinaan yang saya lontarkan pada “Anda”. Tapi ini kenyataan yang saya paparkan pada rakyat, yaitu diri saya sendiri. Saya hanyalah rakyat biasa yang bermimpi dapat memperbaiki keadaan ini. Namun, apalah daya di negeri ini telah diatur oleh “UUD (Ujung-ujung Duit). Maafkan saya Bung Karno, bukan maksud saya mengganti istilah itu, tetapi itu telah berubah ketika Bung telah “tiada”.

Flash Back lagi pada jaman penjajahan, berapa negara telah menjajah kita? Berapa tahun kita dikuasai oleh mereka? Dan akhirnya kita “Merdeka” dari “Penjajahan”. Terciptalah Proklamasi, Bendera Negara, Lagu Kebangsaan serta Lembaga Negara yang dihuni oleh Anak Bangsa.

ProklamasiProklamasi berkumandang di Dunia, yang menyatakan tentang kemerdekaan Indonesia setelah beribu-ribu nyawa melayang untuk memperjuangkannya, “Merah-Putih” Berkibar di Negeri ini, dari Sabang sampai Merauke menyanyikan lagu kemerdekaan. Dan bambu runcing pun menjadi tiang sang saka pada saat itu. Bayangkan, hanya dengan sebatang bambu, kita berhasil “Mengibarkan” Merah-Putih di Negeri ini.

17 Agustus 2010, genap 65 tahun Negeri ini “Merdeka” dan bertepatan pada bulan ramadhan. Dan pada bulan ini juga kita telah “dilecehkan” kembali oleh Malaysia. Rakyat tidak tinggal diam akan hal itu, rakyat berkumandang menyampaikan aspirasinya. Turun ke jalan untuk mempertahankan harga diri bangsa ini “harga mati untuk kedaulatan!kita ganyang malaysia” layaknya pidato bung karno pada masa pemerintahanya. Ternyata semangat “45” masih tertanam dari para cicit pejuang kemerdekaan. Roh nenek moyang mereka masih merasukinya untuk berbuat lebih banyak lagi bagi bangsa ini. Sekali lagi saya mengelakan napas. Namun pemimpinnya tidak sanggup mengambil resiko.

Disaat negeri ini sedang gonjang-ganjing oleh masalah perbatasan. DPR pun sibuk membahas “perbatasan”, yaitu bermaksud membangun gedung baru DPR yang merupakan batas bagi PNS biasa dan DPR. Tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada transparansi, munculah miniatur gedung Baru DPR yang beredar dalam media cetak dan elektronik. Siapa yang merancangnya?kapan ada sayembaranya?.Maaf saya gk tahu walaupun saya “Arsitek”. Gedung yang menelan biaya 1,6 T itu tiba-tiba muncul, seolah-olah hotel yang sedang melakukan promosi. “dalam gedung ini disediakan beberapa fasilitas mewah, ada kolam renang, ada restaurant, ada SPA dan masih banyak fasilitas lainnya”.

DPR

Rakyat bicara “waw, pak saya boleh gk ilkut berenang di dalam?kan di Jakarta ini panas sekali.” DPR “ maaf ya ini hanya untuk orang tertentu saja, rakyat kecil gk boleh masuk” (Hanya ilustrasi saja).

Kembali lagi ke masalah sengketa RI-Malaysia (Media menyebutnya begitu).

Tanggal 6 September 2010, RI-Malaysia melakukan pertemuan yang mereka sebut dengan “diplomasi”. Di sini, kedua belah pihak akan merundingkan tentang batas negara yang belum rampung sejak jaman dahulu kala. Perbatasan ZEE belum di bahas sama sekali dari jaman dulu itu. Masih 100% dalam tahap pembicaraan belum ada kata sepakat. “untuk perundingan perbatasan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun menyelesaikannya”.jadi kalo begini kapan beresnya?apa nunggu patok di kalimantan di pindah lagi?.

TKI

Belum lagi masalah TKI yang tiap tahun mengirimkan jasad sang pejuang devisa Negara. Dan masalah yang terdekat adalah hukuman mati bagi TKI yang dituduh membunuh oleh Mahkamah Persekutuan. (dalam kasus ini TKI tidak didampingi oleh satu pun pengacara). Aneh ya? Biarlah, katanya pemerintah mau mengurusnya. “Makanya kalau mau jadi TKI daftar dulu, jangan main selonong boy saja!makan tuh gk dilindungi”. Ini kata-kata dari saya yang geram dengan tingkah seenak jidatnya calon TKI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s