Antara Pengamen Indonesia dan Eropa

“The Stugle for life” seperti yang diucapkan oleh darwin dalam teori evolusinya memang dirasa sangat tepat. Manusia selalu berjuang untuk menyambung hidup mereka, mencari sesuap nasi sebiji logam serta secarik kertas yang sering di jadikan sebagai alasan setiap orang dalam berjuang.

Untuk mendapatkan hal itu butuh perjuangan yang keras, banting tulang, memutar otak hingga akhir hayat. namun, ketika manusia tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mencari pekerjaan, mereka menghalalkan segala cara yang penting dapat hidup layaknya manusia tidak seperti binatang. Namun, sayangnya mereka tidak berfikir panjang untuk mencari makan layaknya binatang.

Banyaknya peluang kerja di Ibukota memikat para pelancong untuk menjajaki Ibukota. Namun, kenyataannya “Sekejam-kejamnya Ibutiri, lebih kejam Ibukota”. Akhirnya pengangguran makin merajalela di Ibukota. Dengan biaya hidup sehari-hari yang lebih tinggi dari kota asal. mereka tetap bertahan di Ibukota dengan pekerjaan seadanya. salah satunya dengan “mengamen”.

A. Gaya Ngamen Ibukota

Gaya orang ngamen di Ibukota sangatlah beragam, dari yang menyanyi Solo, Anak Band, Anak Funk, Gendong Bayi, Hingga gaya Premanisme. Itu semua merupakan selera para pengamen Ibukota.

Penyanyi Solo

 

 

 

 

 

 

Gaya Solo dengan Gitar

Gaya ini merupakan gaya yang sangat menguntungkan, karena kadang kala para penikmat “musisi jalanan” tertarik dengan gaya solonya. meskipun ada gaya solo dengan nada 10 jari atau nada “pok ame-ame”.

Anak Band

Gaya Anak Band

Gaya Band ini dilakukan oleh 2 atau lebih “musisi” dengan membawakan 1 atau 2 lagu dalam tiap sesi. dengan kantong plastik atau topi mereka menerima secarik penghargaan dari para penumpang bis atau kereta api.

Anak Punk

Gaya Pengamen Punk

Untuk yang satu ini ada yang berfikir mau ngasih gk?. saya rasa ada aja yang ngasih, entah apapun alasannya yang penting ikhlas kan. Tp kalau saya jujur ragu-ragu buat ngasihnya, takut apa yang telah saya berikan jadi mudharat bagi mereka. bukannya beramal untuk kebaikan malahan jadi bahan berbuat hal yang gk baik. Tapi itu semua kembali lagi pada masing-masing orang.

Gendong Bayi

Pengamen gendong Bayi

Membawa Seorang ballita mungkin menjadi salah satu cara bagi mereka untuk meningkatkan rasa iba warga Indonesia. Atau ada kemungkinan karena tidak ada yang menjaganya di rumah. saya tidak tahu alasan yang pasti. tapi, mereka malah membuat saya marah, karena membiasakan balita berada di jalanan. Ketika beranjak remaja tidak di ragukan lagi ia akan merasa nyaman berada di jalanan.

Premanisme

Nah, kalau untuk yang satu ini saya tidak punya fotonya. mungkin anda bisa membayangkan bagaimana seorang preman memalak korbannya, walaupun mereka tidak terlalu keras atau hanya sekedar menakut-nakuti agar kita memberikan “secarik kertas berharga”, namun mereka sering membuat saya ingin bertindak.

 

B. Gaya Ngamen ala Eropa

Gaya ngamen eropa sangat elegan. mereka berdandan tidak seperti pengamen Ibukota, malahan mereka memiliki gaya layaknya Artis Ibukota dengan membawa beberapa Alat musik dan meletakan box alat musik sebagai tempat sumbangan para penikmat musik.

Karena budaya Eropa berbeda dengan tanah air, artinya di Eropa lebih banyak pejalan kaki ketimbang yang naik Bis atau kendaraan pribadi. Jadi para Musisi jalanan di Eropa tidak perlu capek-capek naik turun kendaraan, berdesak-desakan di Bis. tapi mereka hanya berdiam di suatu tempat yang dirasa cocok untuk beraksi dan menanti pengunjung lewat dan memberikan aspirasinya. Seperti pada Gambar di Bawah.

Aksi Musisi Jalanan Eropa

Bagaimana? tertarik untuk mendengarkan lantunan terompetnya. jika anda tidak berkenan tinggal jalan cepat aja untuk menghindarinya atau mungkin lari.

 

(Tulisan ini hanya sekedar memberikan informasi pada pembaca agar berhati-hati dalam melangkah)

jika anda ingin tahu berapa omzet pengamen kunjungi link (http://rajwarafi.com/jangan-remehkan-omzet-profesi-mereka/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s