Kredibilitas “Konsultan Arsitektur” Indonesia patut dipertanyakan

Dewasa ini, Negeri Garuda ini tengah gencar melakukan pembangunan dalam bidang properti baik dengan pemodal dalam Negeri atau Pemerintah maupun Investasi dari Investor luar yang berniat memutarkan modalnya di Negeri ini. Memang project properti itu daat dikatakan ulit untuk berhenti. Bagaimana tidak? semakin lama penduduk Indonesia semakin bertambah dan dibarengi dengan Urbanisasi besar-besaran serta meningkatnya tingkat pendapatan Masyarakat di Indonesia menjadi salah satu penyebab meningkatnya pula kebutuhan akan hunian di Negeri ini, khususnya di daerah perkotaan.

Beberapa Developer ternama indonesia berlomba menciptakan kota mandiri di sekitar “selimut” Jakarta yaitu daerah Tangerang, Depok, dan Bekasi. ketiga kota ini menjadi rebutan para Developer seperti Agung Sedayu Group, Sinar Mas, Agung Podomoro, Summarecon serta masih banyak lagi.

Namun, dari perlombaan Developer Indonesia itu, apakah kita dapat memastikan bahwa konsultan Arsitektur-nya itu berasall dari Indonesia? ini patut dipertanyakan.

dari beberapa Kota Mandiri, mungkin hanya sebagian kecil yang dirancang oleh Konsultan dalam Negeri, Seperti Summarecon Serpong yang dirancang oleh salah satu Konsultan dalamnegeri yang tengah merambah ke mancanegara yaitu Urbane Indonesia yang didirikan oleh Ridwan Kamil.

Lalu kemana Konsultan Arsitektur yang lain?

Dari penilaian saya terhadap beberapa project yang saya ketahui dan kebetulan pernah menangani pelaksanaannya. Saya sangat kecewa dengan hasil kerja Konsultannya dari beberapa aspek. Dari hal terkecil hingga konsep yang diterapkan. Dimulai dari Hal kecil yang mungkin ini mudah untuk dimaksimalkan pengerjaannya yaitu Gambar Kerja. Atau yang sering disebut Bestek.

Bestek, merupakan gambar lengkap desain sebuah bangunan yang nantinya akan menjadi Acuan utama dalam pembangunan sebuah Bangunan. Ketika Bestek diproduksi secara asal, maka secara automatis yang menjadi korban ialah Kontraktor dan tukang yang sering menjadi kambing hitam dalam setiap kesalahan pekerjaan. Lalu kenapa dengan Bestek produksi Konsultan Arsitek dalam Negeri?

Dalam satu kasus yang saya temukan pada pekerjaan pembangunan yang pernah saya tangani. Gambar Kerja atau Bestek yang diserahkan pada Kontraktor sering kali tidak memiliki informasi yang lengkap ntuk digunakan sebagai gambar kerja. sehingga merupakan sebuah keharusan dalam setiap Kontraktor untuk menyiapkan Drafter lapangan guna memperbaiki kesalahan yang terjadi pada gambar. Memang itu hal biasa, tapi coba perhatikan. Drafter bukanlah seorang yang ahli dalam konsep sebuah bangunan, sistem yang baru diterapkan oleh seorang Arsitek mungkin saja belum diketahui oleh seorang Drafter yang bukanlah dari konsultan itu. Maka, dapat dipastikan Drafter lapangan pun kebingungan dalam membuat gambar kerja atau Shop Drawing.

Hal kecil ini sering diremehkan oleh konsultan Arsitektur di Negeri ini, dan kita patut bertanya apakah ketika membuat Gambar kerja itu, sebuah konsultan memiliki pengetahuan lapangan yang kadang dan malahan sering berbeda dengan konsep desain. Inilah yang terjadi pada konsultan Arsitek Indonesia kebanyakan, sehingga mengurangi kepercayaan setiap Developer untuk menggunakannya. Kredibilitas Konsultan yang patut dipertanyakan serta yang tidak kalah penting itu adalah kredibilitas yang memberi Izin Membangun pada sebuah pembangunan. Apakah mereka memeriksa gambar secara teliti atau hanya sekedar melihat cover dan membuka “halaman tengah”nya saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s