Bekerja itu “Belajar”

Hari ini pikiran saya sangat “galau”, bukan karena masalah yang sering dihadapi remaja saat ini tapi masalah yang sebenarnya tidak perlu di ambil pusing. Ini tentang Karir dan Pekerjaan.

Bekerja merupakan tahapan kehidupan yang sedang saya alami saat ini, mencari pengalaman dan berharap mendapatkan ilmu baru dalam dunia Arsitektur, terutama ilmu tentang Konsep Perancangan yang baik. karena saya tidak mampu membayar semua itu dalam ranah Formal. Padahal profesi saya sangat menuntut pendidikan Formal.

Menjadi Sarjana Arsitektur merupakan Planning saya setelah lulus kuliah Diploma Arsitektur. Namun, kondisi saya belum mendukung untuk hal itu. Hal ini berawal dari Setelah saya lulus SMA yang tidak tahu harus melanjutkan kemana. Di sebuah daerah yang terisolasi serta sangat minim Informasi, saya berusaha untuk meraih mimpi saya semasa kecil, yaitu menjadi Seorang Insinyur Bangunan. Namun, dengan keterbatasan Aksebilitas, saya mendapatkan informasi pendidikan formal di salah satu Universitas di Bandung yang menyediakan Pendidikan Arsitek.

Pada Universitas tersebut ada 2 Program untuk jurusan Arsitektur, yaitu Teknik Arsitektur Perumahan (D3) dan Pendidikan Teknik Arsitektur (S1). Setelah melalui beberapa pertimbangan akan masa depan saya. Maka, saya memilih untuk mengambil Teknik Arsitektur Perumahan (D3) yang katanya pendidikan teknik murni atau dengan kata lain (non-pendidikan).

Setelah Saya diterima di Universitas tersebut tanpa test (PMDK) maka saya mulai menjalani hidup sebagai mahasiswa Arsitektur yang tidak begitu banyak memiliki waktu luang untuk bersantai-santai, karena untuk D3 semua pelajaran dipaksakan secepat mungkin dengan alasan target waktu 3 tahun itu.

3 tahun sudah saya kuliah dan akhirnya memperoleh predikat Ahli Madya Arsitektur (AMd. Ars). Dan setelah itu saya langsung bekerja di Kontraktor, berharap mendapatkan penghasilan tinggi saya memilih kerja di Ibukota. Alhamdulillah, Kontraktor besar yang saya dapatkan dengan posisi awal sebagai Drafter dan berubah fungsi sebagai Junior Arsitek.

Selama bekerja, pikiran saya selalu tertuju pada dunia pendidikan, saya selalu terpikirkan untuk secepatnya dapat melanjutkan kuliah saya. Dan hingga saat ini hampir 2 tahun berlalu saya belum juga mendapatkan kesempatan itu karena biaya ekstensi terlampau jauh dari penghasilan saya selama kerja meskipun saya harus freelance juga di perusahaan lain. Namun itulah kehidupan, jika belum diizinkan oleh Allah maka sampai kapan pun kita hanya bisa berusaha.

Lalu, sering saya terpikir untuk belajar di Biro Arsitek yang ternama. melamar kesana-kemari namun hasilnya hampir sama, Untuk jadi Junior Arsitek, saya harus punya predikat “S.T”. Hmmm,,,miris memang. tapi sudahlah tak masalah, berjuang lagi saja.😀

Lalu, ketika tempat kerja saya sedang membutuhkan tenaga Arsitek baru. Bermunculanlah beberapa kandidat dengan gelar Sarjana mencoba keberuntungannya. Namun dari sekian banyaknya kandidat belum ada satu pun yang hadir jadi rekan kerja saya. Entah alasannya apa, entah masalah Negosiasi sallary atau mungkin kemampuan. Tapi sempat ada bocoran kalau beberapa kandidat dengan predikat Sarjana itu memiliki kemampuan di bawah saya yang hanya berpredikat Ahli Madya. Lalu kenapa beberapa perusahaan memulai rekruitment dengan melihat pendidikan terakhir?

“So, Setinggi apapun tingkat pendidikan kita, ternyata akan mampu dikalahkan oleh lamanya pengalaman kita dalam satu bidang tertentu. Dan ilmu itu bisa kita dapatkan dimana pun, berfikirlah positif, jangan merasa minder karena kita lebih rendah dari mereka, tapi minderlah jika kemampuan kita lebih rendah dari mereka”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s